Monday, July 23News That Matters

Meneladani Keistimewaan Khadijah RA, Cinta Sejati Rasulullah SAW

Muhammad merupakan pemuda yang teguh menjaga kehormatan dirinya. Ia tidak pernah mengenal wanita lain sebelum Khadijah, ketika meikah, Muhammad berusia 25 tahun dan Khadijah berusia 40 tahun. Ketika Muhammad kemudian diangkat menjadi rasul, Khadijah lah yang berperan penting dalam menghilangkan keraguan dan ketakuatan dari diri Muhammad. Khadijah pula yang pertama mengimani dan mempercayainya. Di tengah kerasnya intimidasi dan tekanan kaum Quaraisy kepada Rasulullah, Khadijah juga yang dengan setia mendampingi dan membelanya. Benarlah pernyataannya bahwa “Muhammad tidak pernah menerima pengingkaran   dan pendustaan yang  menyakiti hatinya kecuali Allah meringankannya melalui  Khadijah.”

Peran itu terus dijalankan Khadijah selama sepuluh tahun, sejak ia berusia 55 tahun hingga ia meninggal dunia di usia 65 tahun. Kekuatan fisik dan kecantikan Khadijah sesemakin lama semakin pudan dimakan usia. Tetapi ada sesuatu yang tidak pernah berubah didalam dirinya : kekuatan spiritual dan kejernihan cinta. Ia selalu dan selamanya beriman kepada Allah serta meyakini kebenaran risalah suaminya. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah pada masa hidup Khadijah tidak pernah berikir untuk menikah lagi dengan perempuan lain atau menjadikan hamba sahaya wanita sebagai istri. Begitu berarti Khadijah bagi beliau hingga tak ada seorangpun yang bisa menggangtikan posisinya.

Betapa sempurnanya sifat Khadijah sebagai wanita muslim, kesetiaanya kepada suami, kecerdasannya dalam berfikir dan kejernihannya dalam menentukan sikap membuat ia mendapatkan salam langsung dari Allah melalui malaikat jibril, membuktikan bahwa Allah pun menhormati Khadijah. Bukan hanya itu Allah memberikan kabar gembira kepada Khadijah tentang sebuah rumah terbuat dari permata yang dibangun untuknya di surga, Rasulullah bersabda,” Aku diperintahkan untuk memberi kabar gembira kepada Khadijah bahwa akan dibangun untuknya disurga sebuah rumah dari permata; taka da hiruk pikuk dan rasa lelah disana.

Kecintaan Rasulullah kepada Khadijah membuat Khadijah adalah satu-satunya istri  yang tidak pernah dimadu oleh Rasulullah. Pernah suatu ketika Rasulullah memuji dan mendo’akan Khadijah didepan istri-istrinya yang lain. Aisyah, wanita yang dinikahi Rasulullah dalam keadaan masih gadis, pernah meras sangat cemburu, ia bercerita “aku tidak pernah merasa cemburu kepada seorang wanita sebesar cemburuku kepada khajidah, aku tidak pernah melihatnya, tetapi rasulullah sering menyebut dan mengingatnya.”

MasyaAllah  sebegitu sempurnanya kah Khadijah sehingga wanita setaraf Aisyahpun sangat cemburu kepada Khadijah.

Kembali pada saat ini…

Kita adalah wanita-wanita akhir zaman, yang hidup ditengah-tengah kebobrokan moral, seperti tak ada aturan dibumi ini sehingga orang-orang bebas melakukan apa yang ia inginkan, dan apatis terhadap aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Sebagai wanita muslim tak ada tempat bergantung kecuali kepada Allah. Menjadi  sebaik-baik perhiasan atau seburuk-buruk fitnah dunia? Itu adalah pilhan kita sebagai seorang wanita.

Menjadi wanita yang selalu meneladani kesempurnaan Khadijah sebagai seorang muslimah sejati, wahai muslimah jadilah wanita yang lembut namun memiliki komitmen yang kuat dalam hidupnya, komitmen hidup dalam keadaan islam seperti Khadijah istri Rasulullah,walaupun perbedaan yang sangat amat jauh antara kita dan Khadijah semoga kita dapat dipertemukan dan dapat berbincang dengan ibunda Khadijah di Surga FirdausNya. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.